LMND : 3 Kali 24 Jam, Waktu Bagi Nadiem Makarim

No comment 460 views
banner 160x600

riaubertuah.id

JAKARTA, RIAUBERTUAH.ID – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu (GMJB) melakukan aksi demonstrasi di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta pusat, Senin (22/06/2020).

Massa aksi awalnya berkumpul di Tugu Proklamasi kemudian melakukan long march menuju Kantor Kemendikbud sambil meneriakkan tuntutan mereka yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan dalam dunia pendidikan.

LMND DKI yang di wakili Muhamad Galuh Riski menyampaikan bahwa orientasi pendidikan saat ini telah jauh melenceng dari cita-cita dan semangat kemerdekaan. Pendidikan, lanjut dia, sudah dikendalikan dan diserahkan kedalam mekanisme pasar.

“Ya, pendidikan kita telah dijadikan sebagai komoditi untuk memenuhi kebutuhan industri dan pasar,” ungkap Galuh.

Galuh Mahasiswa Aktif kampus Unindra mendesak pemerintah agar menghentikan segala bentuk komersialisasi dan liberalisasi di sektor pendidikan. Dia juga menuntut kepada pemerintah melalui Kemendikbud agar biaya pendidikan selama Pandemi Covid-19 di gratiskan.

“Mahasiswa sudah lebih dari 3 bulan tidak masuk kampus, sementara sebelumnya sudah melunasi uang kuliah dan tidak ada perkuliahan di kampus. Tidak ada bantuan dari pemerintah maupun birokrasi kampus untuk memudahkan kuliah mahasiswa selama Pandemi,” tutur Galuh.

Senada dengan itu, dari BEM Unindra Jakarta, Goldi Herdiansyah D. Mengatakan bahwa selama Pandemi pemerintah tidak mempedulikan keadaan pendidikan Indonesia. Dana abadi pendidikan sebesar 60 T, lanjut Goldy, digunakan untuk menambal defisit APBN akibat Covid-19. Padahal, menurut dia, masih banyak anggaran yang dapat dialihkan untuk penanganan wabah Corona, misalnya anggaran pemindahan ibukota.

“Ini menunjukkan perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap dunia pendidikan tidak ada,” kata Goldy.

Selain itu, mahasiswa mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tidak bertemu dengan mahasiswa untuk menerima aspirasi mahasiswa. Mahasiswa memberikan waktu 3 kali 24 jam bagi Nadiem Makarim untuk merespon tuntutan-tuntutan massa aksi.

“Jika tidak mengakomodir tuntutan mahasiswa, ada gerakan yang lebih besar dan massif untuk pendudukan kantor Kemendikbud,” tutup Goldy. (Aan/Rb)